Vitamin B1: Sang Pembasmi Beri-Beri
Juli 11, 2010 pukul 11:30 am | Ditulis dalam Farmakologi | Tinggalkan komentarKaitkata: Akibat kekurangan vitamin B1, beri-beri, Defisiensi Vitamin B1, dr Eijkman, Inti Pirimidin, Inti Tiazol, Kebutuhan Vitamin B1 per hari, Struktur Kimia Thiamin, Thiamin, Vitamin
Oleh: Rico Bachtiar
Vitamin B1 yang dikenal juga dalam nama lain Thiamin merupakan vitamin yang penemuannya diawali oleh penelitian dokter Eijkman, seorang dokter militer Belanda yang bertugas di Jawa. Pada kala itu (akhir abad ke-19) Eijkman menyatakan bahwa penyakit beri-beri bisa disembuhkan dengan pemberian bekatul beras.
Penelitian dokter Eijkman mengacu kepada fenomena unggas yang diberi pakan berupa beras yang telah dibersihkan dan dimasak. Beliau menemukan bahwa pemberian pakan kepada unggas berupa beras yang telah dibersihkan dan dimasak dapat menyebabkan kelumpuhan. Kelumpuhan dapat disembuhkan dengan cara menghentikan pemberian pakan seperti yang tersebut di atas dan menggantinya dengan pakan berupa beras yang belum dibersihkan. Kemudian substansi yang dimaksud oleh Eijkman terdapat pada bekatul beras ditemukan juga pada sayur-sayuran, kacang-kacangan, susu, kuning telur dan hati. Yang mana substansi tersebut dinamakan Aneurin oleh para peneliti selanjutnya setelah Eijkman.
Kimia Thiamin
Thiamin/Aneurin adalah kompleks molekul organik yang memiliki satu inti tiazol dan inti pirimidin yang dihubungkan oleh jembatan methylene dalam struktur kimianya. Gambaran struktur kimia Thiamin adalah sebagai berikut:
Dalam tubuh Thiamin akan dirubah menjadi bentuk aktifnya setelah bereaksi dengan Adenosin Triphosfat (ATP) menjadi Thiamin Pirofosfat. Thiamin Pirofosfat adalah koenzim dalam reaksi karboksilasi asam piruvat dan asam ketoglutarat. Peningkatan kadar asam piruvat dalam darah juga dapat diindikasikan sebagai tanda tubuh kekurangan vitamin B1.
Kebutuhan Dalam Sehari
Kebutuhan Thiamin untuk tubuh adalah sebanding dengan asupan kalori per hari. Ini disebabkan Thiamin dibutuhkan untuk menjalankan metabolisme energi, terutama karbohidrat. Oleh karenanya, jumlah Thiamin yang dibutuhkan berbanding lurus dengan asupan makanan pokok per hari. Thiamin minimal dibutuhkan sebesar 0.3 mg per 1000 kcal. Jika perhitungan kalori dirasa membingungkan, maka beruntung di Indonesia sudah ada standar yang disebut AKG (Angka Kecukupan Gizi). AKG untuk
Vitamin B1 di Indonesia adalah 0.3-0.4 mg/hari untuk bayi, 1.0 mg/hari untuk orang dewasa, dan 1.2 mg/ hari untuk ibu hamil.
Kekurangan Thiamin
Beri-beri adalah salah satu akibat terberat dari kondisi defisiensi Thiamin. Gejala utama beri-beri tampak pada sistem jantung & pembuluh darah (kardiovaskuler) dan sistem saraf. Gangguan sistem kardiovaskuler dapat berupa penurunan kerja jantung antara lain sesak nafas setelah kerja fisik yang berat, pembesaran jantung, gangguan ritme dan lain-lain. Sedangkan gangguan pada sistem saraf dapat berupa neuritis perifer dengan gejala kelemahan pada kaki, kekuatan otot berkurang, dan dapat menjurus pada kelumpuhan tungkai pada keadaan yang lebih berat.
Tinggalkan sebuah Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.
