Copy Resep

Maret 16, 2010 pukul 11:07 am | Ditulis dalam Serba-serbi | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Kopi resep bukan kopi darat apalagi kopi tubruk. Kopi yang satu ini tentu berhubungan dengan ranah kefarmasian. Setiap yang pernah menebus obat di apotek setidaknya pernah (meski tidak semua) membawa pulang kopi resep atau biasa juga disebut salinan resep. Namun tahukah anda fungsi kopi resep yang sebenarnya? Apakah hanya sebagai salinan resep asli semata? Atau anda malah menduga fungsi kopi resep melebihi fungsi orisinilnya. Untuk itu disini akan saya bahas tentang kopi resep tentu dengan keterbatasan pengetahuan saya miliki saat ini.

Untuk batasan atau definisi resmi dari kopi resep belum dapat saya tampilkan sekarang (meskipun pernah saya baca di berbagai literatur kefarmasian) karena tak satupun literatur ada di tangan saya saat ini. Tapi untuk teman-teman sekalian saya berjanji akan segera menyunting tulisan ini.

Untuk sementara dan secara sederhana kopi resep dapat dijelaskan sebagai suatu salinan yang memuat semua informasi yang tercantum dalam resep asli.

Fungsi Kopi Resep

Kopi resep idealnya ditulis dan ditandatangani oleh apoteker. Kopi resep dikeluarkan jika dalam resep asli ada permintaan ulang dari dokter penulis resep. Disamping itu, kopi resep juga berfungsi untuk digunakan sebagai pengganti resep asli dalam hal pasien hanya mengambil separuh dari jumlah obat yang tercantum dalam resep atau apotek tidak mampu memenuhi semua permintaan obat yang tercantum dalam resep yang nantinya kopi resep dapat dipergunakan untuk menebus obat di apotek lain.

Kopi Resep Tidak Diterima/Ditolak

Banyak orang yang menebus obat di apotek meminta kopi resep sebagai pengganti resep asli yang mereka serahkan. Ada anggapan keliru yang semakin besar di masyarakat bahwa kopi resep dapat digunakan untuk menebus obat yang sama berulang-ulang kali jika diinginkan. Padahal anggapan tersebut sangat keliru, kopi resep tidak dapat digunakan untuk menebus obat berulang-ulang tanpa permintaan tertulis dari dokter di resep aslinya. Penolakan ini berguna untuk mencegah penyalahgunaan obat oleh pasien karena setiap penggunaan obat-obatan keras oleh pasien harus berada di bawah pengawasan dokter yang bersangkutan, lebih-lebih obat tersebut adalah obat-obatan yang termasuk ke dalam golongan narkotika dan psikotropika.

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: